Senin, 07 November 2011

[Cerpen inspirative] Ini Hutangmu, Bu...

Seorang ibu sedang masak di dapur. Tiba-tiba pintu dapur terbuka. Ternyata anaknya yang masuk dapur. Ia membawa selembar kertas. “Ibu ini surat dariku.” Sang ibu tercengang. Tidak biasanya anaknya membuat surat untuknya. Sang anak pun keluar dari dapur. Sang ibu membaca suratnya:
“Ibu, ini hutangmu minggu ini”:
Untuk menyapu dan mengepel Rp. 10.000,-
Untuk menjaga adik Rp. 20.000,-
Untuk ke toko disuruh ibu Rp. 30.000,-
Untuk membersihkan kamar Rp. 10.000,-
Untuk memotong rumput Rp. 20.000,-
Untuk beres-beres rumah Rp. 20.000,-
Jadi hutangmu minggu ini sebesar Rp.110.000,-
Sang ibu tersenyum. Ia pun mengambil pensil dan membalas surat anaknya. Begini bunyinya:
“Nak, ibu akan membayar hutang ibu padamu. Tapi tahukah kamu berapa hutangmu pada ibu selama ini? Ini catatannya:
Untuk mengandungmu gratis
Untuk melahirkanmu gratis
Untuk menjagamu siang malam gratis
Untuk ke dokter waktu kamu sakit gratis
Untuk semua kebandelanmu gratis
Untuk biaya sekolahmu gratis
Untuk seluruh uang jajanmu gratis.
“Jadi Nak, ternyata kamu tidak berhutang apa-apa pada Ibu.”
Sang ibu memberikan surat balasan itu pada anaknya. Sang anak pun membacanya:
Ketika selesai membaca, tak terasa berurailah air matanya. Ia pun menulis sesuatu di suratnya. Tulisan itu berbunyi “Ibu, seluruh hutangmu telah LUNAS. Maafkan aku Ibu”
Sang anak menghampiri ibunya. Ia langsung memeluk ibunya erat-erat. Ia menangis. Ia menyesal. Ia sungguh-sungguh malu. Sang ibu hanya memeluk anaknya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengelus-elus anaknya. Sang ibu pun tersenyum. Tak terasa, air matanya pun meleleh. Menganak sungai di pipinya. Tapi,… sekarang hatinya bahagia.
Itulah ceritanya. Bagi saya cerita ini sungguh inspiratif. Cerita ini menunjukkan betapa mulianya seorang ibu yang diselimuti cinta. Cinta telah membuatnya tegar. Ia begitu sabar menghadapi anaknya yang mengesalkan. Bahkan ia dapat mendidik anaknya dengan sangat baik. Coba bayangkan bila sang ibu justru marah ketika disurati anaknya seperti itu. Bagaimanakah sikap sang anak? Kemungkinan besar keduanya saling marah. Setelah itu saling benci. Dan seterusnya
Di sisi lain, sang ibu adalah orang yang berfokus pada peluang. Anaknya yang bandel adalah kesempatan baginya. Kesempatan apa? Kesempatan untuk mendidik dengan cara yang menyentuh hati. Bukankah di hati cinta itu bermukim. Bukankah dengan tersentuh hatinya, setiap orang dapat berubah 180 derajat? Bukankah hati adalah raja diri manusia. Ketika sang raja baik, maka baik-lah pula seluruh kerajaan diri itu.
Ibu, terima kasih…


Oleh : Supardi Lee

sesungguhnya mata memang benar benar boleh menangis
Read more

[Cerpen] Bantu Aku Menjadi Anak Berbakti

Mobil yang membawaku mulai keluar dari pintu gerbang area pertambangan.Sebentar lagi menyusuri jalanan kota Bontang.Sebuah kota di Kalimantan Timur yang kini kurasakan dingin hingga ke tulang sumsum paling dalam.Seolah membekukan jantung dan menggerogoti hati. Sebuah kota yang pernah menjadi rajutan benang-benang mimpiku.Menurut cerita, asal usul nama Bontang merupakan akronim bahasa Belanda. Kata "Bond" yang artinya ikatan persaudaraan. Sedangkan "tang" berasal dari kata pendatang. Sebutan ini karena cikal bakal kota ini tidak lepas dari peran warga pendatang. Tapi sudahlah, rasanya tak penting bagiku mengetahui asal-usul atau sejarah kota ini.

Entahlah,kali ini senyuman kecil saja begitu sulit kuukir.Hanya desir angin malam yang merambat melalui jendela pintu mobil mengalirkan rasa yang membuat kalbuku kelu.Semua yang pernah aku harapkan mengapung dan menyeruak resah diam-diam dalam kepedihan.Ribuan kegalauan menyerbu isi dalam tempurung kepala.Jalanan begitu sepi dan lengang.Aku terduduk di rapi di jok tengah mobil.Sesekali menatap lukisan langit.Dewi malam berbaring dihiasi kerlip bintang.Sebagian sinarnya direnggut awan tebal. Begitu indah Tuhan menciptakan lukisan malam.Begitu adil Tuhan memberi kegelapan namun masih di sinari rembulan.Begitu adil Tuhan memberi kegelapan di malam hari dan terang di siang hari.Dan aku yakin, Tuhan maha Adil atas setiap hambaNYA.

Embun mulai berbondong-bondong membasahi semesta.Namun rasa kantuk belum menyerangku.Kulirik jam di pergelangan menunjukkan pukul 2 pagi. Kuhisap dalam-dalam sebatang rokok ditangan dan kuhembuskan perlahan bersama kegalauan.Aku merasa terdzolimi oleh orang-orang yg merasa dirinya paling benar, terdzolimi oleh manusia-manusia tanpa cermin.Mereka menganggapku hanyalah sampah yang tak punya arti hanya karena sebuah data medis. Semakin terasa teriris di dalam dada jika harus mengingat percakapan tadi siang

***

"Selamat pagi Pak?Bapak memanggil saya" Aku melangkah memasuki sebuah ruangan

"Pagi Ali,silahkan duduk.sebentar saya menyelesaikan ini dulu" Terlihat Pak Hafid sibuk memencet deretan tombol di laptopnya

Ruangan ini sejuk, tidak seperti tempat kerjaku yg panas dan berdebu. Ada televisi di pojok kanan, ada dispenser di bawahnya, ada AC plus pengharum ruangannya.Dilengkapi hiasan poster sebuah Big Dump Truck. Sedangkan aku bekerja di lapangan. Segalanya harus bawa sendiri. Minum harus bawa dari mess, air wudhu pun harus bawa.Yah, namanya juga kerja di Tambang

"Ali, saya minta maaf " Kalimat Pak Hafid menyadarkan lamunanku

"Minta maaf untuk apa Pak?" Aku masih bingung dengan perkataannya

"Begini,status kamu kan masih training belum menjadi karyawan di perusahaan ini.Peraturan disini siswa training dilarang berkacamata.Kemarin hasil test medis menyatakan bahwa mata sebelah kanan kamu mengalami minus 0,5.Dengan berat hati proses trainingmu dihentikan sampai disini" Jelasnya

"Itu artinya saya di pecat pak?" Nadaku melemah satu oktan

"Ya mungkin belum rejeki kamu bekerja disini" Dengan enteng Pak Hafid berkata demikian

"Pak,test medisnya kan di awal pak?kenapa hasilnya baru sekarang disaat saya sudah menjalani proses training? seminggu lagi saya selesai training pak? apa tidak bisa saya ditahan sampai seminggu lagi? toh jika sudah selesai training saya bisa memakai kacamata jika pihak perusahaan menginginkan" Aku mulai membela diri

"Ya karena keterlambatan hasil medis sehingga baru sekarang pihak kami menerima hasilnya.Memang berat li,mengeluarkan orang bukan karena kelakuan buruk.Tapi ini peraturan,saya tidak bisa berbuat apa-apa" Pak Hafid mengusap muka

"Kenapa Bapak tidak bisa berbuat apa-apa?Bapak punya wewenang kan?apa gunanya wewenang Bapak untuk menyelamatkan saya?Sebelum saya dikirim kesini, saya sudah melaksanakan tes medis dan hasilnya normal. Jika kemudian disini ada tes lagi dan hasilnya tidak normal apa itu salah saya?silahkan Bapak menuntut pihak medis sebelumnya jika itu memang kesalahan mereka " Tak terasa mataku mulai sebam
Pikiranku bertambah kacau,entah apa yg harus aku perbuat kini. Terlalu menyakitkan.

"Saya masuk sekitar 5 bulan lalu. Training pembinaan mental di Bandung saya lulus.Selama hampir 3 bulan saya menjalani Training disini tak ada sedikitpun hal yang merugikan. Itu artinya saya bisa bekerja aman tanpa berkacamata.Itu bukti yang nyata Pak,apa yang perlu diragukan?apa semua orang disini segala sesuatunya perlu data medis tanpa mempertimbangkan kenyataan yang relevan?" Nadaku makin meninggi.

"Jika saya baru sehari atau dua hari disini wajar bila Bapak mengacu pada data medis.Saya disini sudah lama dan sebentar lagi selesai.Sejauh ini tidak ada masalah tentang penglihatan saya.Apa yg perlu Bapak khawatirkan?" Lanjutku

"Ya nanti kamu bilang semua di kantor pusat,saya tidak berani memutuskan. Intinya kamu di keluarkan dari pihak districk sini. Kamu masih bisa membela diri di Kantor Pusat di Jakarta nanti" Balasnya

"Kata Bapak yang penting disini adalah attitude, skill and knowledge pak?,masalah attitude sejauh ini saya tidak ada masalah.Saya mematuhi semua aturan kedisiplinan.Jangankan melanggar aturan, berniat melanggarpun tidak. Skill,saat teman-teman belum bisa mengoperasikan alat saya juga belum bisa.Tapi saat mereka mulai bisa saya juga mulai bisa.Artinya saya sama dengan mereka.Knowledge, saat bapak bertanya siapa penemu mesin diesel dengan lantang saya jawab dengan benar,padahal tidak ada dalam pelajaran yang saya terima.kurang apa pak? Anda silahkan tanya wali kelas training saya pak, saya mendapatkan nilai tertinggi saat pelajaran teori. Itu bukan sebuah kebetulan pak. Itu buah dari belajar saya.Apakah semua orang yang ada disini juga butuh suatu data tanpa mengacu pada yang relevan?" Aku melemparkan pembelaan

"Tapi akan sangat berdosa jika saya tidak mengikuti aturannya li.Saya harus mengeluarkan kamu" Tatapan Pak Hafid mulai menajam

"Apakah Bapak merasa orang paling benar sedunia?apakah Bapak tak pernah melakukan dosa?saya yakin Bapak pernah tertidur saat bekerja. Apa itu bukan suatu dosa?setelah Bapak terbangun dari tidur Bapak tidak mendapatkan apa-apa.Gaji Bapak masih tetap,itu artinya perhitungan gaji Bapak saat tertidur merupakan gaji dosa.Jika Bapak saat ini mempertahankan saya disini meski Bapak berdosa pada perusahaan,Bapak mendapatkan pahala karena menyelamatkan satu keluarga dari kelaparan pak" Manik bening mengalir dari sudut mataku

"Maksud kamu?"

"Asal Bapak tahu saja, saya tulang punggung keluarga yang harus menafkahi ibuku, adikku dan nenekku. Ayah saya meninggal 2 tahun lalu karena kecelakaan kereta api. Saya anak muda yang punya beban keluarga. Di satu sisi saya harus memikirkan makan keluarga, memikirkan biaya sekolah adik saya. Bapak tahu sendiri tentunya biaya sekolah sekarang selangit.Dan saya masih harus memikirkan biaya berobat ibu saya yang sering sakit-sakitan. Belum lagi rumah saya yang mulai menua.Jika hujan turun, air hujan masuk ke kamar karena bocor. Atap rumah harus di ganti semuanya. Ditambah hutang yang ditinggalkan ayah berjuta-juta saya yang harus membayarnya. Di sisi lain saya harus memikirkan masa depan saya sendiri.Kapan saya harus menikah, kapan saya akan membeli handphone baru.Handphone yang saya pakai sekarang harus di ikat karet gelang agar batreinya tidak lepas. Pada dasarnya saya juga remaja biasa yang masih ingin hura-hura. Tapi demi bakti saya untuk orangtua semua pikiran hura-hura saya buang jauh-jauh pak. Jadi tolong bantu saya menjadi orang yang berbakti pada orangtua Pak ! " Rintihanku semakin mengiba

"Mungkin rejeki kamu bukan disini,saya yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik buatmu" Dia mulai mengasihaniku entah kepura-puraan atau tidak aku tak peduli

"Kenapa bukan Bapak yang membantu saya?siapa tahu Tuhan memberikan pekerjaan buat saya dengan perantara belas kasih Bapak saat ini.Bolehkah saya minta pemulangan saya di undur satu minggu lagi pak?minimal sampai training selesai?" Balasku

“Berat, saya tidak bisa.Itu hanya membuang waktumu disini.Karena say tidak bisa meluluskan kamu.Disamping itu pihak Jakarta juga sudah memerintahkan kamu pualng secepatnya” Hardiknya

“Saya mohon pak....” Tangisku makin tak tertahan

"Maaf,saya masih banyak kerjaan yang lebih penting li. Nanti malam akan disediakan mobil untuk mengantarmu ke bandara,kamu silahkan berkemas" Jawabnya mantap

" Bukankah menangani saya juga termasuk pekerjaan Bapak kan? apakah saya tidak lebih penting? Apakah selama ini yang saya lakukan sia-sia?" Suaraku begitu serak.Entah karena tangisan atau memang batuk yang sedang aku derita

"Oke saya rasa cukup,nanti kamu akan disediakan tiket pesawat menuju jakarta. Ada yang perlu ditanyakan?"

"tidak ada uang saku pak?" Aku menunduk

"Maaf,prosedurnya dari sini tidak ada.Kami hanya menyediakan tiket pesawat saja" Jelasnya

"Kalau boleh jujur pak, uang saya saat ini hanya tinggal dua ribu rupiah. "Uang saku" training dari perusahaan selama ini sepenuhnya saya kirimkan ke rumah. Selain untuk biaya hidup keluarga, juga untuk mencicil hutang ayah. Itupun masih kurang jika kebetulan adik saya memerlukan dana untuk penunjang sekolah" Kembali aku mengiba

" Disini rasanya saya sudah malu sama teman-teman.jika hari minggu tiba teman-teman mulai bepergian untuk sekedar jalan-jalan ataupun belanja, saya hanya berdiam diri di kamar. Saya isi waktu saya untuk membaca ataupun sekedar maen game ular. Satu-satunya game yang ada di hape saya. Saya membaca bukan merasa sok rajin atau sok tekun. Karena memang untuk mengisi waktu. Saya tidak punya cukup uang untuk belanja ataupun jalan-jalan. Paling jika teman-teman pulang saya hanya nimbrung minta makanan yang mereka beli. Sungguh saya malu. Tapi semua saya pertahankan karena saya punya harapan pak. Tapi pada akhirnya harus musnah hanya karena sesuatu yang tidak relevan untuk dijadikan sebuah alasan" Kembali aku mencari-cari keadilan di sela-sela keadilan Tuhan yang masih memberikan makanan kepada seekor semut di dinding ruangan

" Ya nanti akan saya usahakan " Kata Pak Hafid sambil membenarkan posisi duduknya

"Kenapa nanti pak?kenapa tidak sekarang? Selama ini saya menganggap Bapak adalah atasan sekaligus guru saya. Dan orang-orang yang di luar ruangan ini adalah guru saya yang selama ini membimbing training saya. Saya tidak butuh ratusan ribu. Jika mereka masih menganggap saya adalah muridnya, relakan lima ribu rupiah saja untuk saya. Anggaplah untuk hadiah terakhir saya. Jika dari kantong Bapak dan Beliau-Beliau mengeluarkan lima ribu saja, saya rasa cukup untuk ongkos saya sampai dirumah. Gaji Bapak yang belasan juta tidak akan berpengaruh jika direlakan sedikit untuk saya. Daripada Bapak selalu menyumbang masjid berjuta-juta seperti yang biasa Bapak katakan,rasanya lebih berharga jika saat ini Bapak memberi saya uang meskipun hanya lima ribu perak" Manik bening kembali membanjiri sudut mataku. Aku sudah tak kuasa menahan tangisan.

"Untuk boarding pass di bandara saja 40 ribu, belum lagi ongkos naik angkutannya ke kantor pusat jakarta. Dan itupun saya harus menahan lapar jika uangnya tak cukup untuk membeli sarapan” Jelasku
Rasanya semua ceritaku tak ada pengaruhnya. Seperti seorang bocah yang sedang bercerita tentang kisah Bawang Merah dan Bawang Putih.Mungkin dia menganggap ini hanya omong kosong belaka. Aku juga  tak berhak memaksanya percaya.Semua ucapan hanya berakhir tangis di hatiku. Tak mudah memang, hanya rona keiklasan masih terlihat terlalu samar. Pahit itulah kenyataan. Sama seperti kenyataan bahwa dalam kehidupan ini penuh kekejaman

"Sepertinya kamu mulai kurang ajar menggurui saya, silahkan kamu keluar dari ruangan ini. Sekarang kamu pulang ke mess dan ratapi nasibmu sendiri sampai mobil menjemputmu untuk ke bandara. Saya juga punya nasib sendiri" Tegas pak Hafid yang mulai bangkit dari duduk. Baginya, mungkin sudah tidak ada yang penting lagi untuk dikatakan.

Aku melangkah gontai meninggalkan ruangan. Meninggalkan sebongkah mimpi yang pernah kugantungkan.Kuayunkan kaki keluar melintasi meja-meja kerja. Mereka memandangku dengan tatapan hampa.Entah mengapa tiba-tiba aku merasa ganjil berada di tempat ini, tanpa bisa menatap satu sama lain. dan yang lebih tak bisa kupahami, mengapa orang-orang yang nyaris tiap hari kujumpai, kuajak bicara, jalan bersama, sekarang hanya memberi kesan keakraban yang semu?

Sesampainya di mess, kucuci muka untuk menghilangkan bekas tangis perih di wajahku, tapi tidak di hatiku. Lagi-lagi luka terasa perih mengiris. Kenapa aku di keluarkan sekarang? Padahal sudah 85 % proses training kulalui tanpa ada cacat apapun. Kujalani semua peraturan dengan ikhlas. Atas dasar medis aku dikeluarkan? Aku butuh keadilanMU ya Rabbi, kembali hatiku merintih. Sesaat kemudian aku sudah terduduk di lantai
***

"Mas ayo turun mas, sarapan dulu"  Tukang Sopirnya mengagetkan lamunanku. Kulirik jam ditangan menunjukkan pukul 4 pagi.Aku keluar dari mobil,turun menuju sebuah Rumah Makan.Lalu aku memesan nasi dengan telur mata sapi dan air mineral.Beruntung teman-temanku mengumpulkan uang untukku. Mereka yang masih training saja mau berbagi, mengapa yang aku anggap guru-guru yang patut aku hormati tak punya nurani? Apakah selama ini aku salah menghormati?aku merasa seperti seorang penjilat, tersenyum kepada orang-orang yang kuanggap tidak pantas dihormati hanya karena mereka punya kedudukan. Kembali hatiku merintih lirih. Memang benar kata orang, tidak ada keadilan di dunia. Kini, aku harus menata hatiku untuk bisa menyampaikan kabar ini jika nanti ibuku menelpon. Aku harus bisa merangkai kata supaya ia tidak bersedih.

"Ya Rabbi, terlalu besarkah dosa-dosaku ya Robb?Terlalu sombongkah hamba hingga sedikit sekali rasa syukur padaMU?Ataukah aku terburu-buru memintaMU mengabulkan bait-bait do'a ku?Atau kurang sucikah niat hamba hingga segala mimpi yg kurajut harus sekarat?Maha Suci Engkau wahai Dzat yg Agung.Jangan Engkau goyahkan hamba setelah Engkau beri petunjuk.Segala puji bagiMU Tuhan yg Maha Pemberi.Berilah hamba kekuatan menerima cobaan ini ya Rabb.Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau.Aku berada dalam kekuasaanMU,aku berlindung dari kekejian perbuatanku.Aku mengakui nikmat yg Engkau anugerahkan kepadaku,mengakui dosa-dosaku.Dengan imanku yang tak seberapa ini, ampunilah segala dosa-dosaku, karena hanya kepadaMU aku memohon ampunan.Berikan hamba kekuatan untuk menghadapi cobaanmu.Berikan hamba kekuatan untuk menyampaikan kabar tentangku pada ibuku.Jangan biarkan airmata menghiasi kulitnya yang semakin menua.Berikan kesabaran pada ibuku menerima cobaanmu ya Allah yang maha mendengar.Tunjukkan aku jalan yg Engkau ridhoi untukku menafkahi ibu dan adikku.Hanya kepadaMU aku menyembah, dan hanya kepadaMU aku memohon pertolongan.Sungguh,aku telah ikhlas Engkau ambil ayahku.Karena aku sangat menyadari semua akan kembali padaMU ya Allah yg Maha Kuasa atas segalanya. Untuk itu berilah hamba jalan untuk membahagiakan orangtuaku yang kini tinggal ibuku.Ampunilah dosa-dosa ayahku, kasihanilah dia, dan lapangkan kuburnya, sampaikan doa-doaku untuknya.Ya Allah yang Maha Rahman,Mudahkanlah segala urusanku dalam mewujudkan mimpi-mimpiku, membanggakan ibuku, membahagiakan saudaraku.Ya Allah, Terimalah amal bakti hamba pada orangtua sebagai amalan hamba.Jangan masukkan hamba kedalam golongan anak durhaka jika aku tak sempat membahagiakan ayahku.Ya Allah yg Maha Tinggi,tiada daya dan upaya selain atas pertolonganmu.Mudahkanlah hamba mengukir senyum untuk orang-orang yang hamba sayangi.Sesungguhnya hamba hanya manusia yg lemah.Jauhkanlah hamba dari rasa iri, dengki, benci, marah dan berkeluh kesal. Jadikan aku orang yang mampu bersyukur atas nikmat iman yang Engkau berikan. Maha suci Allah dan segala puji bagimu ya Tuhanku. kuserahkan semua padaMU.  " rintihan doaku dalam hati.

by :Ali Mustofa
Read more