Senin, 07 November 2011

[Cerpen inspirative] Ini Hutangmu, Bu...

Seorang ibu sedang masak di dapur. Tiba-tiba pintu dapur terbuka. Ternyata anaknya yang masuk dapur. Ia membawa selembar kertas. “Ibu ini surat dariku.” Sang ibu tercengang. Tidak biasanya anaknya membuat surat untuknya. Sang anak pun keluar dari dapur. Sang ibu membaca suratnya:
“Ibu, ini hutangmu minggu ini”:
Untuk menyapu dan mengepel Rp. 10.000,-
Untuk menjaga adik Rp. 20.000,-
Untuk ke toko disuruh ibu Rp. 30.000,-
Untuk membersihkan kamar Rp. 10.000,-
Untuk memotong rumput Rp. 20.000,-
Untuk beres-beres rumah Rp. 20.000,-
Jadi hutangmu minggu ini sebesar Rp.110.000,-
Sang ibu tersenyum. Ia pun mengambil pensil dan membalas surat anaknya. Begini bunyinya:
“Nak, ibu akan membayar hutang ibu padamu. Tapi tahukah kamu berapa hutangmu pada ibu selama ini? Ini catatannya:
Untuk mengandungmu gratis
Untuk melahirkanmu gratis
Untuk menjagamu siang malam gratis
Untuk ke dokter waktu kamu sakit gratis
Untuk semua kebandelanmu gratis
Untuk biaya sekolahmu gratis
Untuk seluruh uang jajanmu gratis.
“Jadi Nak, ternyata kamu tidak berhutang apa-apa pada Ibu.”
Sang ibu memberikan surat balasan itu pada anaknya. Sang anak pun membacanya:
Ketika selesai membaca, tak terasa berurailah air matanya. Ia pun menulis sesuatu di suratnya. Tulisan itu berbunyi “Ibu, seluruh hutangmu telah LUNAS. Maafkan aku Ibu”
Sang anak menghampiri ibunya. Ia langsung memeluk ibunya erat-erat. Ia menangis. Ia menyesal. Ia sungguh-sungguh malu. Sang ibu hanya memeluk anaknya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengelus-elus anaknya. Sang ibu pun tersenyum. Tak terasa, air matanya pun meleleh. Menganak sungai di pipinya. Tapi,… sekarang hatinya bahagia.
Itulah ceritanya. Bagi saya cerita ini sungguh inspiratif. Cerita ini menunjukkan betapa mulianya seorang ibu yang diselimuti cinta. Cinta telah membuatnya tegar. Ia begitu sabar menghadapi anaknya yang mengesalkan. Bahkan ia dapat mendidik anaknya dengan sangat baik. Coba bayangkan bila sang ibu justru marah ketika disurati anaknya seperti itu. Bagaimanakah sikap sang anak? Kemungkinan besar keduanya saling marah. Setelah itu saling benci. Dan seterusnya
Di sisi lain, sang ibu adalah orang yang berfokus pada peluang. Anaknya yang bandel adalah kesempatan baginya. Kesempatan apa? Kesempatan untuk mendidik dengan cara yang menyentuh hati. Bukankah di hati cinta itu bermukim. Bukankah dengan tersentuh hatinya, setiap orang dapat berubah 180 derajat? Bukankah hati adalah raja diri manusia. Ketika sang raja baik, maka baik-lah pula seluruh kerajaan diri itu.
Ibu, terima kasih…


Oleh : Supardi Lee

sesungguhnya mata memang benar benar boleh menangis
Read more

[Cerpen] Bantu Aku Menjadi Anak Berbakti

Mobil yang membawaku mulai keluar dari pintu gerbang area pertambangan.Sebentar lagi menyusuri jalanan kota Bontang.Sebuah kota di Kalimantan Timur yang kini kurasakan dingin hingga ke tulang sumsum paling dalam.Seolah membekukan jantung dan menggerogoti hati. Sebuah kota yang pernah menjadi rajutan benang-benang mimpiku.Menurut cerita, asal usul nama Bontang merupakan akronim bahasa Belanda. Kata "Bond" yang artinya ikatan persaudaraan. Sedangkan "tang" berasal dari kata pendatang. Sebutan ini karena cikal bakal kota ini tidak lepas dari peran warga pendatang. Tapi sudahlah, rasanya tak penting bagiku mengetahui asal-usul atau sejarah kota ini.

Entahlah,kali ini senyuman kecil saja begitu sulit kuukir.Hanya desir angin malam yang merambat melalui jendela pintu mobil mengalirkan rasa yang membuat kalbuku kelu.Semua yang pernah aku harapkan mengapung dan menyeruak resah diam-diam dalam kepedihan.Ribuan kegalauan menyerbu isi dalam tempurung kepala.Jalanan begitu sepi dan lengang.Aku terduduk di rapi di jok tengah mobil.Sesekali menatap lukisan langit.Dewi malam berbaring dihiasi kerlip bintang.Sebagian sinarnya direnggut awan tebal. Begitu indah Tuhan menciptakan lukisan malam.Begitu adil Tuhan memberi kegelapan namun masih di sinari rembulan.Begitu adil Tuhan memberi kegelapan di malam hari dan terang di siang hari.Dan aku yakin, Tuhan maha Adil atas setiap hambaNYA.

Embun mulai berbondong-bondong membasahi semesta.Namun rasa kantuk belum menyerangku.Kulirik jam di pergelangan menunjukkan pukul 2 pagi. Kuhisap dalam-dalam sebatang rokok ditangan dan kuhembuskan perlahan bersama kegalauan.Aku merasa terdzolimi oleh orang-orang yg merasa dirinya paling benar, terdzolimi oleh manusia-manusia tanpa cermin.Mereka menganggapku hanyalah sampah yang tak punya arti hanya karena sebuah data medis. Semakin terasa teriris di dalam dada jika harus mengingat percakapan tadi siang

***

"Selamat pagi Pak?Bapak memanggil saya" Aku melangkah memasuki sebuah ruangan

"Pagi Ali,silahkan duduk.sebentar saya menyelesaikan ini dulu" Terlihat Pak Hafid sibuk memencet deretan tombol di laptopnya

Ruangan ini sejuk, tidak seperti tempat kerjaku yg panas dan berdebu. Ada televisi di pojok kanan, ada dispenser di bawahnya, ada AC plus pengharum ruangannya.Dilengkapi hiasan poster sebuah Big Dump Truck. Sedangkan aku bekerja di lapangan. Segalanya harus bawa sendiri. Minum harus bawa dari mess, air wudhu pun harus bawa.Yah, namanya juga kerja di Tambang

"Ali, saya minta maaf " Kalimat Pak Hafid menyadarkan lamunanku

"Minta maaf untuk apa Pak?" Aku masih bingung dengan perkataannya

"Begini,status kamu kan masih training belum menjadi karyawan di perusahaan ini.Peraturan disini siswa training dilarang berkacamata.Kemarin hasil test medis menyatakan bahwa mata sebelah kanan kamu mengalami minus 0,5.Dengan berat hati proses trainingmu dihentikan sampai disini" Jelasnya

"Itu artinya saya di pecat pak?" Nadaku melemah satu oktan

"Ya mungkin belum rejeki kamu bekerja disini" Dengan enteng Pak Hafid berkata demikian

"Pak,test medisnya kan di awal pak?kenapa hasilnya baru sekarang disaat saya sudah menjalani proses training? seminggu lagi saya selesai training pak? apa tidak bisa saya ditahan sampai seminggu lagi? toh jika sudah selesai training saya bisa memakai kacamata jika pihak perusahaan menginginkan" Aku mulai membela diri

"Ya karena keterlambatan hasil medis sehingga baru sekarang pihak kami menerima hasilnya.Memang berat li,mengeluarkan orang bukan karena kelakuan buruk.Tapi ini peraturan,saya tidak bisa berbuat apa-apa" Pak Hafid mengusap muka

"Kenapa Bapak tidak bisa berbuat apa-apa?Bapak punya wewenang kan?apa gunanya wewenang Bapak untuk menyelamatkan saya?Sebelum saya dikirim kesini, saya sudah melaksanakan tes medis dan hasilnya normal. Jika kemudian disini ada tes lagi dan hasilnya tidak normal apa itu salah saya?silahkan Bapak menuntut pihak medis sebelumnya jika itu memang kesalahan mereka " Tak terasa mataku mulai sebam
Pikiranku bertambah kacau,entah apa yg harus aku perbuat kini. Terlalu menyakitkan.

"Saya masuk sekitar 5 bulan lalu. Training pembinaan mental di Bandung saya lulus.Selama hampir 3 bulan saya menjalani Training disini tak ada sedikitpun hal yang merugikan. Itu artinya saya bisa bekerja aman tanpa berkacamata.Itu bukti yang nyata Pak,apa yang perlu diragukan?apa semua orang disini segala sesuatunya perlu data medis tanpa mempertimbangkan kenyataan yang relevan?" Nadaku makin meninggi.

"Jika saya baru sehari atau dua hari disini wajar bila Bapak mengacu pada data medis.Saya disini sudah lama dan sebentar lagi selesai.Sejauh ini tidak ada masalah tentang penglihatan saya.Apa yg perlu Bapak khawatirkan?" Lanjutku

"Ya nanti kamu bilang semua di kantor pusat,saya tidak berani memutuskan. Intinya kamu di keluarkan dari pihak districk sini. Kamu masih bisa membela diri di Kantor Pusat di Jakarta nanti" Balasnya

"Kata Bapak yang penting disini adalah attitude, skill and knowledge pak?,masalah attitude sejauh ini saya tidak ada masalah.Saya mematuhi semua aturan kedisiplinan.Jangankan melanggar aturan, berniat melanggarpun tidak. Skill,saat teman-teman belum bisa mengoperasikan alat saya juga belum bisa.Tapi saat mereka mulai bisa saya juga mulai bisa.Artinya saya sama dengan mereka.Knowledge, saat bapak bertanya siapa penemu mesin diesel dengan lantang saya jawab dengan benar,padahal tidak ada dalam pelajaran yang saya terima.kurang apa pak? Anda silahkan tanya wali kelas training saya pak, saya mendapatkan nilai tertinggi saat pelajaran teori. Itu bukan sebuah kebetulan pak. Itu buah dari belajar saya.Apakah semua orang yang ada disini juga butuh suatu data tanpa mengacu pada yang relevan?" Aku melemparkan pembelaan

"Tapi akan sangat berdosa jika saya tidak mengikuti aturannya li.Saya harus mengeluarkan kamu" Tatapan Pak Hafid mulai menajam

"Apakah Bapak merasa orang paling benar sedunia?apakah Bapak tak pernah melakukan dosa?saya yakin Bapak pernah tertidur saat bekerja. Apa itu bukan suatu dosa?setelah Bapak terbangun dari tidur Bapak tidak mendapatkan apa-apa.Gaji Bapak masih tetap,itu artinya perhitungan gaji Bapak saat tertidur merupakan gaji dosa.Jika Bapak saat ini mempertahankan saya disini meski Bapak berdosa pada perusahaan,Bapak mendapatkan pahala karena menyelamatkan satu keluarga dari kelaparan pak" Manik bening mengalir dari sudut mataku

"Maksud kamu?"

"Asal Bapak tahu saja, saya tulang punggung keluarga yang harus menafkahi ibuku, adikku dan nenekku. Ayah saya meninggal 2 tahun lalu karena kecelakaan kereta api. Saya anak muda yang punya beban keluarga. Di satu sisi saya harus memikirkan makan keluarga, memikirkan biaya sekolah adik saya. Bapak tahu sendiri tentunya biaya sekolah sekarang selangit.Dan saya masih harus memikirkan biaya berobat ibu saya yang sering sakit-sakitan. Belum lagi rumah saya yang mulai menua.Jika hujan turun, air hujan masuk ke kamar karena bocor. Atap rumah harus di ganti semuanya. Ditambah hutang yang ditinggalkan ayah berjuta-juta saya yang harus membayarnya. Di sisi lain saya harus memikirkan masa depan saya sendiri.Kapan saya harus menikah, kapan saya akan membeli handphone baru.Handphone yang saya pakai sekarang harus di ikat karet gelang agar batreinya tidak lepas. Pada dasarnya saya juga remaja biasa yang masih ingin hura-hura. Tapi demi bakti saya untuk orangtua semua pikiran hura-hura saya buang jauh-jauh pak. Jadi tolong bantu saya menjadi orang yang berbakti pada orangtua Pak ! " Rintihanku semakin mengiba

"Mungkin rejeki kamu bukan disini,saya yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik buatmu" Dia mulai mengasihaniku entah kepura-puraan atau tidak aku tak peduli

"Kenapa bukan Bapak yang membantu saya?siapa tahu Tuhan memberikan pekerjaan buat saya dengan perantara belas kasih Bapak saat ini.Bolehkah saya minta pemulangan saya di undur satu minggu lagi pak?minimal sampai training selesai?" Balasku

“Berat, saya tidak bisa.Itu hanya membuang waktumu disini.Karena say tidak bisa meluluskan kamu.Disamping itu pihak Jakarta juga sudah memerintahkan kamu pualng secepatnya” Hardiknya

“Saya mohon pak....” Tangisku makin tak tertahan

"Maaf,saya masih banyak kerjaan yang lebih penting li. Nanti malam akan disediakan mobil untuk mengantarmu ke bandara,kamu silahkan berkemas" Jawabnya mantap

" Bukankah menangani saya juga termasuk pekerjaan Bapak kan? apakah saya tidak lebih penting? Apakah selama ini yang saya lakukan sia-sia?" Suaraku begitu serak.Entah karena tangisan atau memang batuk yang sedang aku derita

"Oke saya rasa cukup,nanti kamu akan disediakan tiket pesawat menuju jakarta. Ada yang perlu ditanyakan?"

"tidak ada uang saku pak?" Aku menunduk

"Maaf,prosedurnya dari sini tidak ada.Kami hanya menyediakan tiket pesawat saja" Jelasnya

"Kalau boleh jujur pak, uang saya saat ini hanya tinggal dua ribu rupiah. "Uang saku" training dari perusahaan selama ini sepenuhnya saya kirimkan ke rumah. Selain untuk biaya hidup keluarga, juga untuk mencicil hutang ayah. Itupun masih kurang jika kebetulan adik saya memerlukan dana untuk penunjang sekolah" Kembali aku mengiba

" Disini rasanya saya sudah malu sama teman-teman.jika hari minggu tiba teman-teman mulai bepergian untuk sekedar jalan-jalan ataupun belanja, saya hanya berdiam diri di kamar. Saya isi waktu saya untuk membaca ataupun sekedar maen game ular. Satu-satunya game yang ada di hape saya. Saya membaca bukan merasa sok rajin atau sok tekun. Karena memang untuk mengisi waktu. Saya tidak punya cukup uang untuk belanja ataupun jalan-jalan. Paling jika teman-teman pulang saya hanya nimbrung minta makanan yang mereka beli. Sungguh saya malu. Tapi semua saya pertahankan karena saya punya harapan pak. Tapi pada akhirnya harus musnah hanya karena sesuatu yang tidak relevan untuk dijadikan sebuah alasan" Kembali aku mencari-cari keadilan di sela-sela keadilan Tuhan yang masih memberikan makanan kepada seekor semut di dinding ruangan

" Ya nanti akan saya usahakan " Kata Pak Hafid sambil membenarkan posisi duduknya

"Kenapa nanti pak?kenapa tidak sekarang? Selama ini saya menganggap Bapak adalah atasan sekaligus guru saya. Dan orang-orang yang di luar ruangan ini adalah guru saya yang selama ini membimbing training saya. Saya tidak butuh ratusan ribu. Jika mereka masih menganggap saya adalah muridnya, relakan lima ribu rupiah saja untuk saya. Anggaplah untuk hadiah terakhir saya. Jika dari kantong Bapak dan Beliau-Beliau mengeluarkan lima ribu saja, saya rasa cukup untuk ongkos saya sampai dirumah. Gaji Bapak yang belasan juta tidak akan berpengaruh jika direlakan sedikit untuk saya. Daripada Bapak selalu menyumbang masjid berjuta-juta seperti yang biasa Bapak katakan,rasanya lebih berharga jika saat ini Bapak memberi saya uang meskipun hanya lima ribu perak" Manik bening kembali membanjiri sudut mataku. Aku sudah tak kuasa menahan tangisan.

"Untuk boarding pass di bandara saja 40 ribu, belum lagi ongkos naik angkutannya ke kantor pusat jakarta. Dan itupun saya harus menahan lapar jika uangnya tak cukup untuk membeli sarapan” Jelasku
Rasanya semua ceritaku tak ada pengaruhnya. Seperti seorang bocah yang sedang bercerita tentang kisah Bawang Merah dan Bawang Putih.Mungkin dia menganggap ini hanya omong kosong belaka. Aku juga  tak berhak memaksanya percaya.Semua ucapan hanya berakhir tangis di hatiku. Tak mudah memang, hanya rona keiklasan masih terlihat terlalu samar. Pahit itulah kenyataan. Sama seperti kenyataan bahwa dalam kehidupan ini penuh kekejaman

"Sepertinya kamu mulai kurang ajar menggurui saya, silahkan kamu keluar dari ruangan ini. Sekarang kamu pulang ke mess dan ratapi nasibmu sendiri sampai mobil menjemputmu untuk ke bandara. Saya juga punya nasib sendiri" Tegas pak Hafid yang mulai bangkit dari duduk. Baginya, mungkin sudah tidak ada yang penting lagi untuk dikatakan.

Aku melangkah gontai meninggalkan ruangan. Meninggalkan sebongkah mimpi yang pernah kugantungkan.Kuayunkan kaki keluar melintasi meja-meja kerja. Mereka memandangku dengan tatapan hampa.Entah mengapa tiba-tiba aku merasa ganjil berada di tempat ini, tanpa bisa menatap satu sama lain. dan yang lebih tak bisa kupahami, mengapa orang-orang yang nyaris tiap hari kujumpai, kuajak bicara, jalan bersama, sekarang hanya memberi kesan keakraban yang semu?

Sesampainya di mess, kucuci muka untuk menghilangkan bekas tangis perih di wajahku, tapi tidak di hatiku. Lagi-lagi luka terasa perih mengiris. Kenapa aku di keluarkan sekarang? Padahal sudah 85 % proses training kulalui tanpa ada cacat apapun. Kujalani semua peraturan dengan ikhlas. Atas dasar medis aku dikeluarkan? Aku butuh keadilanMU ya Rabbi, kembali hatiku merintih. Sesaat kemudian aku sudah terduduk di lantai
***

"Mas ayo turun mas, sarapan dulu"  Tukang Sopirnya mengagetkan lamunanku. Kulirik jam ditangan menunjukkan pukul 4 pagi.Aku keluar dari mobil,turun menuju sebuah Rumah Makan.Lalu aku memesan nasi dengan telur mata sapi dan air mineral.Beruntung teman-temanku mengumpulkan uang untukku. Mereka yang masih training saja mau berbagi, mengapa yang aku anggap guru-guru yang patut aku hormati tak punya nurani? Apakah selama ini aku salah menghormati?aku merasa seperti seorang penjilat, tersenyum kepada orang-orang yang kuanggap tidak pantas dihormati hanya karena mereka punya kedudukan. Kembali hatiku merintih lirih. Memang benar kata orang, tidak ada keadilan di dunia. Kini, aku harus menata hatiku untuk bisa menyampaikan kabar ini jika nanti ibuku menelpon. Aku harus bisa merangkai kata supaya ia tidak bersedih.

"Ya Rabbi, terlalu besarkah dosa-dosaku ya Robb?Terlalu sombongkah hamba hingga sedikit sekali rasa syukur padaMU?Ataukah aku terburu-buru memintaMU mengabulkan bait-bait do'a ku?Atau kurang sucikah niat hamba hingga segala mimpi yg kurajut harus sekarat?Maha Suci Engkau wahai Dzat yg Agung.Jangan Engkau goyahkan hamba setelah Engkau beri petunjuk.Segala puji bagiMU Tuhan yg Maha Pemberi.Berilah hamba kekuatan menerima cobaan ini ya Rabb.Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau.Aku berada dalam kekuasaanMU,aku berlindung dari kekejian perbuatanku.Aku mengakui nikmat yg Engkau anugerahkan kepadaku,mengakui dosa-dosaku.Dengan imanku yang tak seberapa ini, ampunilah segala dosa-dosaku, karena hanya kepadaMU aku memohon ampunan.Berikan hamba kekuatan untuk menghadapi cobaanmu.Berikan hamba kekuatan untuk menyampaikan kabar tentangku pada ibuku.Jangan biarkan airmata menghiasi kulitnya yang semakin menua.Berikan kesabaran pada ibuku menerima cobaanmu ya Allah yang maha mendengar.Tunjukkan aku jalan yg Engkau ridhoi untukku menafkahi ibu dan adikku.Hanya kepadaMU aku menyembah, dan hanya kepadaMU aku memohon pertolongan.Sungguh,aku telah ikhlas Engkau ambil ayahku.Karena aku sangat menyadari semua akan kembali padaMU ya Allah yg Maha Kuasa atas segalanya. Untuk itu berilah hamba jalan untuk membahagiakan orangtuaku yang kini tinggal ibuku.Ampunilah dosa-dosa ayahku, kasihanilah dia, dan lapangkan kuburnya, sampaikan doa-doaku untuknya.Ya Allah yang Maha Rahman,Mudahkanlah segala urusanku dalam mewujudkan mimpi-mimpiku, membanggakan ibuku, membahagiakan saudaraku.Ya Allah, Terimalah amal bakti hamba pada orangtua sebagai amalan hamba.Jangan masukkan hamba kedalam golongan anak durhaka jika aku tak sempat membahagiakan ayahku.Ya Allah yg Maha Tinggi,tiada daya dan upaya selain atas pertolonganmu.Mudahkanlah hamba mengukir senyum untuk orang-orang yang hamba sayangi.Sesungguhnya hamba hanya manusia yg lemah.Jauhkanlah hamba dari rasa iri, dengki, benci, marah dan berkeluh kesal. Jadikan aku orang yang mampu bersyukur atas nikmat iman yang Engkau berikan. Maha suci Allah dan segala puji bagimu ya Tuhanku. kuserahkan semua padaMU.  " rintihan doaku dalam hati.

by :Ali Mustofa
Read more

Kisah Hikmah: "Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu Ya Rasul.."

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya:
“Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”

Suamiku menjawab:
“Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”
Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku
berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:

“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata:
“Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa
lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk
pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia
dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika
sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan
keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami
semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke
punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin
menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau
lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya
merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak
lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan
menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh
urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai
dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku
itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:

“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.
“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang
mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.
Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah
sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!”
Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera
membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam
pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.
Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan
suamiku dan kukatakan padanya:

“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak
ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk
sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan
anaknya sendiri!”

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin
anakku menirumu, wahai Nabi.

Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran
dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati.
Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,
“Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang
putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.
Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa
tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan
seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua,
“Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu
mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi
keturunan.Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan
dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan
sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi
jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.
Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke
pelukan suamiku. Aku bilang:

“Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian
menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa
berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan
betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan
yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu
Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.
Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:
Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!
Amin, Alhamdulillah

SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat
Read more

Inilah Nasihat Yang Sangat Jitu

Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan
maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi'ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim
agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. 

Ia berkata, "Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong
berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!"

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, "Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang
kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa." 

Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, "Apa saja syarat-
syarat itu, ya Aba Ishak?"

"Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan
rezeki Allah," ucap Ibrahim.

Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, "Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala
sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?"

"Benar," jawab Ibrahim dengan tegas. "Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah
engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan
melanggar perintah-perintahnya?"

"Baiklah," jawab Jahdar tampak menyerah. "Kemudian apa syarat yang kedua?"
"Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya," kata Ibrahim lebih tegas lagi.

Syarat kedua membuat Jahdar lebih kaget lagi. "Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?"

"Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas
memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?" tanya Ibrahim.
"Kau benar Aba Ishak," ucap Jahdar kemudian. "Lalu apa syarat ketiga?" tanya Jahdar dengan penasaran.

"Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan
tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempar bersembunyi dari-Nya."

Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. "Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana
mungkin Allah tidak melihat kita?"

"Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?" tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi'ah tidak berkutik dan membenarkannya.

"Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?"
"Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh."

Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama
ini. Ia kemudian berkata, "Tidak mungkin... tidak mungkin semua itu aku lakukan."
"Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara
apa kau dapat menghindari murka Allah?"

Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir.
Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu. 

"Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti,
janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!"

Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh
penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, "Cukup…cukup ya Aba Ishak! Jangan kau
teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan
beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah."

Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia
benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah
dengan baik dan khusyu'.

Ibrahim bin Adham yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu
mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi
pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur
yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut. 

Selanjutny, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi'ah untuk menghadap. Setelah ia
menghadap, Ibrahim pun berkata, "Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah
mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan
engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku."

Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, "Wahai Aba Ishak,
sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik
untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang
diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi?"

Ibrahim bin Adham menjawab, "Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat
memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana."
Betapa kagetnya Jahdaar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham.

Kemudian ia berkata, "Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku. Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku.
Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas
segala rahmat-Nya."

Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi'ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas
mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada
akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga
akhir hayatnya.

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Read more

Seorang gadis kecil bernama Bar’ah (true story)

Ini  adalah  kisah  gadis  berumur  10  tahun  bernama Bar`ah,  yang  orangtuanya  dokter dan telah pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Pada usia ini, Bar `ah menghafal seluruh Al Qur’an dengan tajweed, dia sangat cerdas dan gurunya mengatakan bahwa dia sudah maju untuk anak seusianya.

Keluarganya kecil dan berkomitmen untuk  Islam dan ajaran-ajarannya …  . hingga  suatu hari  ibunya mulai merasa sakit  perut  yang  parah  dan  setelah  beberapa  kali  diperiksakan  diketahuilah  ibu  bar’ah
menderita kanker, dan kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir/kronis.

Ibu bar’ah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari
dan  tidak menemukan  ibunya  di  sampingnya …  dan  inilah  ucapan  ibu  bar’ah  kepadanya
“Bar`ah  aku  akan  pergi  ke  surga  di  depan Anda,  tapi  aku  ingin  kamu  selalu membaca Al-Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak.. “

Gadis  kecil  itu  tidak  benar-benar mengerti  apa  yang  ibunya  berusaha  beritahukan,
Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan  ibunya,  terutama ketika  ia mulai dipindahkan
ke  rumah  sakit  untuk  waktu  yang  lama.  Gadis  kecil  ini  menggunakan  waktu  sepulang
sekolahnya  untuk  menjenguk  ibunya  ke  rumah  sakit  dan  membaca  Quran  untuk  ibunya
sampai  malam  sampai  ayahnya  datang  dan  membawanya  pulang.

Suatu  hari  pihak  rumah  sakit memberitahu  ayah  bar’ah  bahwa  kondisi  istrinya  itu  sangat
buruk dan ia perlu datang secepat dia bisa melalui telepon, sehingga ayah bar’ah menjemput
Bar `ah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ia
memintanya untuk  tinggal di mobil …  sehingga  ia  tidak akan  shock  jika  ibunya meninggal
dunia.

Ayah keluar dari mobilnya, dengan penuh air mata di matanya, ia menyeberang jalan
untuk masuk rumah sakit,  tapi  tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak
ayah bar’ah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu…tak terbayangkan ..tangis gadis
kecil ini pada saat itu…!

Tragedi  Bar  `ah  belum  selesai  sampai  di  sini…  berita  kematian  ayahnya  yang
disembunyikan dari  ibu bar’ah yang masih opname di rumah sakit, namun setelah  lima hari
semenjak kematian suaminya akhirnya ibu bar’ah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil
ini  sendirian  tanpa  kedua  orangtuanya  ,  dan  oleh  orangtua  teman-teman  sekolah  bar’ah
memutuskan untuk mencarikan kerabatnya di Mesir, sehingga kerabatnya bisa merawatnya.

Tak  berapa  lama  tinggal  di mesir  gadis  kecil Bar  `ah mulai mengalami  nyeri mirip
dengan  ibunya dan oleh keluarganya  ia  lalu diperiksakan  , dan  setelah  beberapa kali  tes di
dapati  bar’ah  juga  mengidap  kanker …  tapi  sungguh  mencengangkan  kala  ia  di  beritahu
kalau ia menderita kanker….inilah perkataan bar’ah kala itu: “Alhamdulillah, sekarang aku
akan bertemu dengan kedua orang tua saya.”

Semua  teman-teman  dan  keluarga  terkejut.  Gadis  kecil  ini  sedang  menghadapi
musibah yang bertubi-tubi dan dia  tetap sabar dan  ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah
untuknya!…..Subhanallah

Orang-orang mulai mendengar tentang Bar `ah dan ceritanya, dan Saudi memutuskan
untuk mengurusnya … ia mengirimnya ke Inggris untuk pengobatan penyakit ini.
Salah  satu  saluran  TV  Islam  (Al Hafiz  –  The  pelindung) mendapat  kontak  dengan
gadis kecil  ini dan memintanya untuk membaca Quran … dan  ini  adalah  suara  yang  indah
yang di lantunkan oleh bar’ah …

http://www.youtube.com/watch?v=NnNS9ID9Ecw
Link Bar’ah recited

Mereka  menghubungi  lagi  Bar’ah  sebelum  ia  pergi  ke  Coma(nama  kota)  dan  dia
berdoa untuk kedua orangtuanya dan menyanyikan Nasheed …
http://www.youtube.com/watch?v=yD5S-jtxFls
Link Bar’ah Nasheed

Hari-hari  terlewati  dan  kanker  mulai  menyebar  di  seluruh  tubuhnya,  para  dokter
memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia telah bersabar dengan apa yang ditetapkan
Allah  baginya  …  tapi  beberapa  hari  setelah  operasi  amputasi  kakinya  kanker  sekarang
menyebar  ke  otaknya,  lalu  oleh  dokter memutuskan  untuk melakukan  operasi  otak …  dan
sekarang bar’ah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan
Silakan berdoa untuk Bar’ah, dan bagi saudara-saudara kita di seluruh dunia.

Video bar’ah lainnya .. .
http://www.youtube.com/watch?v=gkIO02s6Ywg
Link Bar’ah recited

"Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang
Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu"
[Al Baqarah:45]


Sumber
Read more

Alqur'an Mempengaruhi Kecerdasan Janin

Dulu sebelum ada penelitian bahwa janin yang ada didalam kandungan harus sering mendengarkan musik klasik, bahkan sekarang pun masih ada yang pake khususnya yang muslim. Padahal dia tahu manfaat janin diperdengarkan Al Quran atau Murrotal, sangat bagus untuk pendidikan janin tersebut. Tapi tetep yang pake musik klasik tersebut lebih percaya banget pada musik klasik, "Aneh kan?"

Padahal justru Al Quran lah yang sangat ermanfaat sekali, karena dulu belum ada penelitian. coba deh buktikan. Ini contoh isi Al Quran buat anak "I Love My Al Quran" (Mizan)

Kini tengah dikembangkan metoda pendidikan pada janin yang dilakukan dengan memberi stimulasi (rangsangan) pada sel-sel otak janin.

Caranya dengan memperdengarkan bacaan Al Quran, nasyid, cermah dll. Menurut para ahli, organ-organ tubuh janin selesai terbentuk pada usia 5 bulan dalam kandungan. Setelah masa itu, terjadi proses perkembangan atau pematangan dari seluruh sel-sel organ yang telah terbentuk dan berfungsi secara sempurna. Bersamaan dengan itu, diusia ini otak janin pun sudah mampu menterjemahkan rangsang suara.

Jadi, memang benar jika Ibu hamil sering memperdengarkan bacaan Al Quran bisa merangsang sel-sel otak janin sebelum lahir, tapi bukan berarti janin akan lebih cerdas dengan kapasitas dan volume otak yang lebih besar karena bagaimanapun volume otak sudah ditentukan oleh gen masing-masing,minimal, sel-sel otak sudah diberi stimulasi sedini mungkin hingga ia dapat bekerja lebih optimal.

Sumber: http://www.ibudanbalita.com
Read more

40 KESALAHAN DALAM MENDIDIK ANAK

1) Pemilihan jodoh tanpa memperhitungkan mengenai dzuriat ( Keturunan ).
2) Perhubungan suami isteri tanpa memperhitungkan mengenai dzuriat.
3) Kurang berlemah lembut terhadap anak-anak.
4) Memaki dalam menegur kekhilafan anak-anak.
5) Tidak berusaha mevariasikan makanan yang disaji untuk anak-anak.
6) Jarang bersama anak-anak sewaktu mereka sedang makan.
7) Melahirkan suasana yang kurang akrab ketika makan.
8 ) Membeda-bedakan kasih sayang terhadap anak-anak.
9) Kurang melahirkan kasih sayang.
10) Sering mengeluh di hadapan anak-anak.
11) Tidak mengantar-menyambut anak-anak ketika mereka pergi & pulang dari sekolah.
12) Tidak mengenalkan anak-anak dengan konsep keadilan.
13) Tidak memberatkan pendidikan agama dikalangan anak-anak.
14) Tidak terlibat dengan urusan pelajaran anak-anak.
15) Tidak memprogramkan masa rehat dan riadah (piknik & olahraga) anak-anak.
16) Tidak menggalakkan dan menyediakan suasana suka membaca.
17) Mengizinkan anak menjamah makanan &minuman yang tidak halal.
18) Tidak memberi contoh tauladan yang baik di hadapan anak-anak.
19) Jarang meluangkan waktu untuk bergurau senda dengan anak-anak.
20) Terdapat jurang komunikasi di antara ibu bapa dan anak-anak.
21) Tidak menggunakan bahasa yang baik.
22) Suka bertengkar di hadapan anak-anak.
23) Senantiasa menunjukkan muka masam di hadapan anak-anak.
24) Tidak Membimbing Anak-anak supaya mematuhi syarat.
25) Memberi kebebasan yang berlebihan kepada anak-anak.
26) Terlalu mengekang kebebasan anak-anak.
27) Tidak menunaikan janji yang dibuat terhadap anak-anak.
28) Tidak menunjukkan minat kepada aktivitas anak-anak.
29) Tidak memupuk semangat membaca di kalangan anak-anak.
30) Tidak berminat melayani pertanyaan atau kemusykilan anak-anak.
31) Tidak memberi perhatian terhadap buah fikiran anak-anak.
32) Lambat memberi penghargaan kepada anak-anak.
33) Sering mengungkit sesuatu kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak.
34) Hukuman yang tidak setimpal dengan kesalahan yang dilakukan.
35) Sering mengancam dan menakutkan anak-anak.
36) Menghukum tanpa menyatakan kesalahan yang dilakukan.
37) Tidak konsisten dalam menjatuhkan hukuman kepada anak-anak.
38) Memberi nasihat yang sama kepada anak-anak.
39) Tidak tegas dalam mendidik anak-anak.
40) Tidak menganjurkan anak-anak hidup bekerjasama.
Teknik mengajar anak MENGHORMATI and mengeratkan hubungan ibu bapanya
1. Jika si ibu memarahi anak, bapak DILARANG membela anak sewaktu anak itu dimarahi. Begitu pula sebaliknya. Jika tidak, anak akan hilang rasa hormat terhadap ibu/bapa yg memarahi. Anak akan meniru apa yg diajar/dididik oleh ibu bapanya. Apabila berlaku  arahan/undang-undang, anak akan menjadi keliru arahan/undang-undang siapakah yg patut dipatuhi. Si ibu atau si bapa. Apabila berlaku pertentangan pendapat yg terang2 ditunjukkan ibu bapa kepada anak ketika dimarahi, ia telah menjatuhkan MARUAH (harga diri ) dan MARTABAT orang yg memarahi (ibu/bapa). Anak hilang rasa hormat dan merasakan perbuatan nakal mereka adalah betul belaka kerana ada yg backing.
2. Bapa DILARANG membentak/mengherdik/bertengkar dengan Ibu di hadapan anak. Begitulah sebaliknya. Anak itu akan meniru tindak tanduk ibu bapa.
3. Sentiasa masak untuk anak dan ajak anak  masak/makan bersama, makanan hasil tangan ibu ini dapat mengeratkan hubungan rohani anak dan ibu. 4. Ibu bapa MESTI makan bersama anak-anak
By. Ummi Hasfa
sumber : tanbihun.com
Read more

Guru Ngaji Ditampar Muridnya

Tanbihun- Metode baca tulis Al-Qur’an mengalami banyak kemajuan. Dulu waktu masih anak-anak penulis hanya mengenal metode Baghdadi dengan pengjarnya yang “sangar”. Dengan tuding (tongkat kecil terbuat dari bambo) ditangan, sang guru ngaji tak segan membentak saat si murid membaca salah setelah diajari berulang-ulang.
“brakkk!!!!….ban-bin-bun,” suara sang guru setelah didahului suara meja yang digedor pakai tudingnya.
Murid-muridnya maju satu persatu, sementara temannya sedang dag-dig-dug, was-was kalau-kalau kena tuding sang guru, tak jarang murid-murid lainnya yang menunggu giliran membaca “kitab alif-alifan” masih sempat bergurau dengan teman disebelahnya. Ada yang main jepretan gelang karet atau berbisik merencanakan permainan seusai pengajian.
“ayo pada nderes (tadarus), jangan guyonan” suara sang guru kembali membuyarkan gurauan murid-muridnya.
Untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan benar dan fasih dibutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun.
Berbeda dengan jaman sekarang, dimana  budaya instan, ingin cepat mendapatkan sesuatu semakin mewabah, metode baca-tulis Al-Qur’an pun tak luput dari demam isntans, sehingga bermunculanlah metode-metode instan, praktis cepat membaca Al-Qur’an. Ada yang menjamin dalam beberapa bulan sudah mahir, ada juga yang menjamin dalam hitungan beberapa jam sudah lihai membaca Al-qur’an.
Penulis tidak sedang membahas kelebihan dan kekurangan setiap metode, namun mencoba menyajikan sebuah “kenangan memori” dari metode-metode itu. Metode jadul menyisakan kenangan mendalam bagi murid-muridnya. Bacaan yang dengan susah payah dipelajarinya ternyata masih kuat bercokol dalam otaknya, lengkap dengan cerita dibalik bacaan itu. Ada orang tua yang dengan gamblang masih mengingat “riwayat” perjalanannya dalam meraih sukses melafalkan huruf “ض” setelah berhari-hari menerima pukulan tuding sang kyai, sehingga huruf itu menjadi kengan pahit sekaligus manis yang sulit dilupakan.
Kala itu dia sempat bertanya-tanya kenapa sang kyai selalu membentaknya saat bacaannya salah? Kenapa pula kadang beliau memukul ringan tangannya dengan tuding saat berkali-kali tidak bisa melafalkan huruf  itu? Seperti tahu rasa penasaran murid-muridnya, sang guru pada suatu malam jum’at, dimana malam jum’at kliwon adalah malam yang paling dinanti oleh murid-muridnya, sebab pada malam itu semua membawa “jaburan” (makanan kecil) untuk dibagikan kembali kepada mereka setelah bersama-sama hafalan syarat-rukun kitab takhyiroh,syarat-rukun wudhu,sholat dan lain-lain.
Saat memberikan nasihatnya, sang guru ngaji menerangkan, bahwa bentakan dan pukulan yang dilakukannya adalah dalam rangka membentak syetan, pukulannya adalah untuk memukul syetan yang mengganggu murid-muridnya. Syetan-syetan itu menggoda dan mengganggu orang ngaji, sehingga sulit menerima pelajaran, sering becanda. Itulah maksud bentakan dan pukulan sang guru. semua muridnya percaya, benar-benar percaya 100%.
Dalam imajinasi penulis, mungkin kalau anak-anak jaman sekarang diperlakukan seperti itu, akan ada murid yang memukul guru ngajinya, ketika ditanya, “kenapa kamu memukul gurumu?” dia akan menjawab “bukan saya yang memukul, tapi syetan”.(zid)
Read more