Senin, 07 November 2011

Guru Ngaji Ditampar Muridnya

Tanbihun- Metode baca tulis Al-Qur’an mengalami banyak kemajuan. Dulu waktu masih anak-anak penulis hanya mengenal metode Baghdadi dengan pengjarnya yang “sangar”. Dengan tuding (tongkat kecil terbuat dari bambo) ditangan, sang guru ngaji tak segan membentak saat si murid membaca salah setelah diajari berulang-ulang.
“brakkk!!!!….ban-bin-bun,” suara sang guru setelah didahului suara meja yang digedor pakai tudingnya.
Murid-muridnya maju satu persatu, sementara temannya sedang dag-dig-dug, was-was kalau-kalau kena tuding sang guru, tak jarang murid-murid lainnya yang menunggu giliran membaca “kitab alif-alifan” masih sempat bergurau dengan teman disebelahnya. Ada yang main jepretan gelang karet atau berbisik merencanakan permainan seusai pengajian.
“ayo pada nderes (tadarus), jangan guyonan” suara sang guru kembali membuyarkan gurauan murid-muridnya.
Untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan benar dan fasih dibutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun.
Berbeda dengan jaman sekarang, dimana  budaya instan, ingin cepat mendapatkan sesuatu semakin mewabah, metode baca-tulis Al-Qur’an pun tak luput dari demam isntans, sehingga bermunculanlah metode-metode instan, praktis cepat membaca Al-Qur’an. Ada yang menjamin dalam beberapa bulan sudah mahir, ada juga yang menjamin dalam hitungan beberapa jam sudah lihai membaca Al-qur’an.
Penulis tidak sedang membahas kelebihan dan kekurangan setiap metode, namun mencoba menyajikan sebuah “kenangan memori” dari metode-metode itu. Metode jadul menyisakan kenangan mendalam bagi murid-muridnya. Bacaan yang dengan susah payah dipelajarinya ternyata masih kuat bercokol dalam otaknya, lengkap dengan cerita dibalik bacaan itu. Ada orang tua yang dengan gamblang masih mengingat “riwayat” perjalanannya dalam meraih sukses melafalkan huruf “ض” setelah berhari-hari menerima pukulan tuding sang kyai, sehingga huruf itu menjadi kengan pahit sekaligus manis yang sulit dilupakan.
Kala itu dia sempat bertanya-tanya kenapa sang kyai selalu membentaknya saat bacaannya salah? Kenapa pula kadang beliau memukul ringan tangannya dengan tuding saat berkali-kali tidak bisa melafalkan huruf  itu? Seperti tahu rasa penasaran murid-muridnya, sang guru pada suatu malam jum’at, dimana malam jum’at kliwon adalah malam yang paling dinanti oleh murid-muridnya, sebab pada malam itu semua membawa “jaburan” (makanan kecil) untuk dibagikan kembali kepada mereka setelah bersama-sama hafalan syarat-rukun kitab takhyiroh,syarat-rukun wudhu,sholat dan lain-lain.
Saat memberikan nasihatnya, sang guru ngaji menerangkan, bahwa bentakan dan pukulan yang dilakukannya adalah dalam rangka membentak syetan, pukulannya adalah untuk memukul syetan yang mengganggu murid-muridnya. Syetan-syetan itu menggoda dan mengganggu orang ngaji, sehingga sulit menerima pelajaran, sering becanda. Itulah maksud bentakan dan pukulan sang guru. semua muridnya percaya, benar-benar percaya 100%.
Dalam imajinasi penulis, mungkin kalau anak-anak jaman sekarang diperlakukan seperti itu, akan ada murid yang memukul guru ngajinya, ketika ditanya, “kenapa kamu memukul gurumu?” dia akan menjawab “bukan saya yang memukul, tapi syetan”.(zid)

0 komentar:

Posting Komentar