Senin, 07 November 2011

Antara Ayah Anak Dan Burung Gagak

Tanbihun.com Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tingkat tinggi duduk berbincang-bincang dihalaman rumah sambil memperhatikan suasana disekitar mereka.

Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap diranting pokok pohon. Si Ayah lalu menudingkan jari ke arah gagak seraya bertanya kepada anaknya.
“nak… apakah benda itu? ”
“burung gagak ayah… ”
Si anak menjawab dengan sopan.
Si Ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si Anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat
“itu burung gagak Ayah..!”
Tetapi sejurus kemudian  Si Ayah bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama.
Si Anak merasa sedikit agak keliru dan merasa bingung dengan pertanyaan sama yang diulang-ulang lalu menjawab dengan lebih kuat
“BURUNG GAGAK AYAH..!!!”
Namun tidak lama kemudian, sekali lagi Sang Ayah mengajukan pertanyaan yang serupa. Hingga membuat Si Anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada kesal kepada Si Ayah.
“itu gagak ayah..” tetapi agak mengejutka Si Anak, karena Si Ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini Si Anak benar-benar hilang kesabaran dan menjadi marah.
“Ayah!!!… saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi nsudah lima kali Ayah mempertanyakan hal yang sama. Dan saya sudah memberikan
jawabannya. Apalagi yang Ayah mahu saya katakan!!??? “


“itu burung GAGAK!!.. burung GAGAK Ayah..!!!”.
kata Si Anak yang amat begitu marah.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Si Ayah bangun menuju rumah meninggalkan Si Anak yang semakin bingung melihat Ayahnya.
Sesaat kemudian Si Ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Nak… cobalah kau baca, apa yang pernah Ayah tulis didalam diary ini” pinta Si Ayah.
Si Anak setuju dan membaca paragraf yang berikut
“hari ini aku berada dihalaman sambil menemani anakku yang beru genap berumur lima tahun.  Tiba-tiba seekor gagak hinggap dipohon berhampiran.  Anakku terus menunnjuk ke arah gagak dan bertanya,
” Ayah apa itu..?? “
Dan Aku menjawab,
“itu burung gagak nak…”
Walau bagaimanapun anakku terus bertanya dengan hal yang serupa, dan aku pun menjawab dengan jawaban yang serupa. Hingga dua puluh lima kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku aku terus menjawab untuk memenuhi rasa ke ingin tahuannya.

“Aku berharap hal ini bisa menjadi menjadi pelajaran berharga untuk anakku kelak “.

Setelah selesai membaca paragraf tersebut, Si Anak mengangkat muka seraya memandang wajah Si Ayah yang kelihatan sayu.
Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Nak… hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal hal yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah kepadaku “
Seketika itu juga Si Anak menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya, dan memohon ampun dengan apa yang telah ia perbuat kepada Ayahnya.

0 komentar:

Posting Komentar